Latar Belakang Konflik Politik dan Momen Legendaris di Lapangan
Pertemuan di Atlanta pada hari Rabu besok bukan sekadar perebutan tiket final Piala Dunia 2026, melainkan babak baru dari rivalitas yang telah mengakar selama enam dekade. Atmosfer panas kian terasa mengingat ini adalah duel pertama kedua raksasa dalam 21 tahun terakhir. Sorotan utama tentu tertuju pada Lionel Messi, sang pencetak gol terbanyak sepanjang masa turnamen, yang berambisi membawa sang juara bertahan kembali ke partai puncak.
Sejarah mencatat tensi tinggi kedua tim bermula pada perempat final Piala Dunia 1966 di Wembley, sebuah laga yang dijuluki "El Robo Del Siglo" (Perampokan Abad Ini) oleh publik Argentina. Kapten Argentina, Antonio Rattin, dikartu merah secara kontroversial hingga harus diusir polisi keluar lapangan, memicu teori konspirasi Amerika Selatan. Hubungan kedua negara semakin memburuk setelah manajer Inggris kala itu, Alf Ramsay, melarang pemainnya bertukar jersi dan mengecap skuad Argentina seperti "binatang".
Baca Juga
Puncak drama terjadi di Piala Dunia 1986, hanya empat tahun setelah konflik berdarah Perang Malvinas. Diego Maradona menghentak dunia lewat dua aksi ikonik dalam waktu empat menit: gol "Tangan Tuhan" yang dicetak menggunakan kepalan tangan, disusul dengan "Gol Abad Ini" setelah ia meliuk-liuk melewati lima pemain bertahan Inggris dari tengah lapangan. Momen magis tersebut menyingkirkan Tiga Singa dan melapangkan jalan Tim Tanggo menjadi juara dunia.
Perseteruan berlanjut pada edisi 1998 di Prancis yang diwarnai drama kartu merah David Beckham akibat terpancing provokasi Diego Simeone, sebelum akhirnya Inggris kalah adu penalti. Beckham sukses membalas dendam lewat gol penalti tunggalnya di Piala Dunia 2002 yang menyingkirkan Argentina di fase grup. Kini, dengan generasi baru yang siap bertarung, semifinal di Amerika Serikat ini dipastikan kembali menyajikan drama tingkat tinggi yang akan diingat sejarah.