Petenis Dunia Tuntut Hak Suara dan Kritik Kalender Turnamen Padat
Aksi boikot sempat membayangi turnamen Grand Slam setelah sejumlah petenis papan atas membatasi sesi wawancara media menjadi hanya 15 menit. Meski Wimbledon akhirnya merespons dengan menaikkan total hadiah sebesar 20 persen, konflik mendasar rupanya bukan sekadar urusan bagi-bagi keuntungan melainkan masalah kesejahteraan pemain.
Bintang muda Amerika Serikat, Ben Shelton, menegaskan bahwa para atlet kini menuntut hak suara dalam setiap pengambilan keputusan besar di sirkuit profesional. Shelton mengkritik durasi turnamen seperti AS Terbuka yang kini memakan waktu hingga tiga minggu serta format Masters 1000 selama 12 hari yang dinilainya sangat menguras fisik.
Baca Juga
Langkah ini mendapat dukungan kuat dari Novak Djokovic yang bergerak melalui asosiasi pemain independennya dengan menyoroti tingginya risiko cedera akibat jadwal yang padat. Menurut Djokovic, orientasi bisnis yang terlalu mendominasi membuat kalender kompetisi terus dipaksa melebar tanpa memikirkan batas kemampuan tubuh para atlet.
Selain masalah fisik, Djokovic juga mendesak perubahan format pertandingan agar lebih singkat demi menjaring minat penonton generasi muda yang memiliki rentang perhatian lebih pendek. Situasi kian rumit dengan bayang-bayang investasi besar dari Arab Saudi yang diprediksi akan merombak total struktur kompetisi tenis global dalam waktu dekat.