Sinar Terang Gustavo Rodas yang Redup oleh Tekanan Hidup
Ketika Lionel Messi meninggalkan Rosario untuk merantau ke Barcelona pada usia 13 ans, manajemen Newell's Old Boys sempat meradang. Mereka bahkan menahan dokumen transfer La Pulga agar kepindahannya ke Catalan terhambat. Namun, Eduardo Lopez, presiden klub kala itu, mencoba menenangkan internalnya dengan sesumbar bahwa kepergian Messi bukan masalah besar karena mereka masih memiliki pemain terbaik yang bertahan di klub.
Sosok yang dimaksud Lopez adalah Gustavo Rodas, atau yang akrab disapa Billy. Lahir setahun lebih awal dari Messi, Rodas memiliki gaya main yang sangat mirip: eksplosif, penggiring bola ulung, dan penyelesai peluang yang mematikan. Postur tubuh Rodas yang lebih ideal dan kekar membuatnya lebih diunggulkan dibanding Messi kecil, yang saat itu masih berjuang dengan masalah hormon pertumbuhan.
Baca Juga
Langkah awal Rodas di level profesional sempat berjalan sangat menjanjikan. Dia mencatatkan debut di tim utama Newell's pada usia 16 tahun dan langsung mencetak gol ke gawang Talleres, sebuah rekor bagi klub. Tak lama berselang, Rodas sukses membawa timnas Argentina U-17 menjuarai Sudamericano. Sayangnya, beban hidup yang berat mulai mengguncang kariernya setelah dia menjadi ayah di usia muda dan harus menghidupi adik-adiknya pasca-perceraian orang tua.
Tekanan finansial membuat Rodas kehilangan gairah dan menganggap sepak bola sekadar alat mencari uang, bukan lagi hobi yang menyenangkan. Akibatnya, dia sering mangkir latihan dan kariernya perlahan merosot hingga terlempar ke berbagai liga di Kolombia, Peru, Ekuador, hingga Asia. Kini, setelah gantung sepatu, Rodas memilih fokus membimbing pemain muda agar tidak mengalami nasib tragis yang sama seperti dirinya akibat tekanan berlebih dari orang tua.