Dua Budaya di Rumah dan Panggilan Hati sang Singa Teranga
Sukses membawa Villarreal finis di peringkat ketiga La Liga tak membuat Pape Gueye melupakan akarnya. Gelandang berusia 27 ans ini mengenang kembali masa kecilnya di Blanc-Mesnil, wilayah suburban Paris, tempat ia tumbuh dengan kultur Prancis sekaligus tradisi kuat Senegal yang dibawa oleh kedua orang tuanya sejak migrasi tahun 1980-an.
Meski sempat mencicipi seragam timnas Prancis kelompok umur hingga U18 dengan mengemas 4 penampilan, Gueye akhirnya memantapkan hati memilih Senegal. Mantan penggawa Marseille ini mengaku keputusan tersebut diambil tanpa paksaan orang tua, melainkan sebuah bentuk balas budi yang setimpal atas perjuangan sang ayah dan ibu yang telah bermigrasi demi masa depan anak-anaknya.
Baca Juga
Gueye juga menyoroti fenomena semakin banyaknya pemain muda keturunan (binationale) berkualitas yang kini langsung memilih negara asal mereka tanpa keraguan, salah satunya talenta muda berusia 18 tahun, Ibrahim Mbaye. Menurutnya, keberhasilan Senegal merengkuh prestasi di level internasional dan konsistensi lolos ke Piala Dunia menjadi daya tarik utama yang membuktikan keseriusan federasi sepak bola Afrika.
Kini, setelah resmi menjadi bagian dari skuad Singa Teranga, kehidupan keluarga Gueye berubah drastis di mana sang ayah bahkan menjadi sosok yang sangat dihormati saat pulang ke Senegal. Sang gelandang pun kini aktif mempelajari bahasa Wolof secara daring dan mulai berinvestasi di sektor pertanian lokal demi berkontribusi langsung bagi masyarakat dan menjadi inspirasi nyata bagi generasi muda di sana.