Tragedi Sevilla 1982 dan Keajaiban Carré Magique Prancis
Bagi generasi pencinta sepak bola lawas, semifinal Piala Dunia 1982 antara Prancis dan Jerman Barat di Sevilla adalah salah satu laga paling dramatis sekaligus kontroversial dalam sejarah. Jean Tigana, motor serangan Les Bleus kala itu, mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah sanggup menonton kembali rekaman pertandingan tersebut. Rasa perih akibat keputusan wasit Charles Corver dan insiden horor yang menimpa Patrick Battiston masih menyisakan trauma mendalam.
Tigana mengenang bagaimana karier internasionalnya justru melesat akibat situasi tak terduga. Cedera yang dialami Michel Platini setelah dilanggar Antonin Panenka dari Cekoslowakia membuka jalan bagi Tigana untuk masuk ke skuad utama. Tampil impresif dan menjadi 'man of the match' saat melawan Austria, Tigana langsung menyemen tempatnya dalam taktik pelatih Michel Hidalgo, meski sebelumnya ia sempat frustrasi dan mogok latihan karena terus dicadangkan.
Baca Juga
Kombinasi lini tengah Prancis kemudian melahirkan kuartet legendaris yang dikenal sebagai "Carré Magique" (Kotak Ajaib), yang dihuni oleh Tigana, Alain Giresse, Bernard Genghini, dan Platini. Tigana dengan ikhlas mengambil peran kotor sebagai pengangkut air demi memanjakan rekan-rekannya. "Michel Platini selalu menghargai kerja keras saya. Jika dia tidak mencetak gol kemenangan, orang-orang tidak akan pernah mengingat umpan atau pergerakan yang saya lakukan," kenang Tigana santai.
Kini, puluhan tahun setelah malam kelam di Sevilla dan kejayaan Piala Eropa 1984, Tigana tetap memandang sepak bola dengan filosofi tinggi. Kehebatannya dalam mengalirkan bola dari lini belakang bahkan sempat membuat maestro Belanda, Johan Cruyff, kepincut untuk memboyongnya ke Barcelona. Gaya main visioner yang ia terapkan saat melatih Fulham di awal era 2000-an membuktikan bahwa pemikiran sepak bola Tigana selalu melompat melampaui zamannya.